Sendratari “Dhangir Sata” Manggung di TMII

Sendratari “Dhangir Sata” Manggung di TMII

Kae ana dhangir sata…..
Eli…yake…elo yake….
Mangkat dhangir bareng karo mas Bambang…
Bali dhangir kepethuk sing klambi abang…
…………………………………………………………………
026Sepenggal lagu rakyat Temanggung tersebut, mengingatkan pada semangat para petani tembakau dalam mengerjakan lahan tanamannya. Berbagai cara dikerjakan untuk menggapai suatu harapan agar mendapat hasil panen yang mendatangkan kegembiraan.
Semangat petani tembakau seakan mencambuk semua komponen yang merasa “menjadi wong manggung”, baik aparat pemerintah daerah, masyarakat, komunitas Temanggung di perantauan, maupun stake holder untuk bersinergi memajukan Temanggung, meskipun dengan berbagai tendensi dan kepentingan.
Pada pertunjukan di TMII Jakarta pada tanggal 8 Maret 2015 ini, Duta Seni Kab. Temanggung mengekspresikan dengan kesenian mayoritas Temanggung, yakni “Kuda Lumping”, yang menceritakan konflik antara Prabu Erlangga raja Kahuripan dari Pulau Jawa melawan calon Arang seorang dukun sakti dan jahat dari Pulau Bali. Pertarungan melibatkan prajurit berkuda dipimpin Empu Bharada, sehingga dapat memusnahkan musuh.
…………………………………………
Kolaborasi dua kesenian antara kuda lumping dan tari Bali ini enak ditonton, meskipun pada awal pertunjukan TMII diguyur hujan namun penonton tetap antosias untuk melihatnya. Kegiatan yang dimeriahkan oleh campur sari pimpinan Joni Sunarko, band “Wani Wirang” pimpinan Badi Heriyanto, kuliner/makanan dan jajanan khas temanggun, pameran foto temanggung, penjualan kaos khas manggung, yang dihadiri oleh ribuan masyarakat asal temanggung dari berbagai komunitas, seperti Paten, Papat, Pasrante, PTB, dll berjalan dengan lancar dan sukses. Para pejabat dari Pemda Temanggung Wabup, Sekda dan segenap jajaranya dari Temanggung dan perwakilan dari Prop. Jateng dan perwakilan dari PJT (Paguyuban Jawa Tengah) menyaksikan pertunjukan sampai paripurna kegiatan.
010Seganap panitia mengucapkan terima kasih kepada pihak Anjungan Jateng, Pemda Kab. Temanggung, Komunitas-komunitas perantau asal Temanggung, para seponsor, seluruh masyarakat penikmat kesenian Temanggung dll, yang telah ikut mensukseskan kegiatan ini.
Tiada gading yang tak retak….apabila ada kekurangan, seluruh panitia mohon maaf yang sebesar-besarnya. Sampai jumpa pada pentas seni berikutnya… (widodo)

Video lengkap kunjungi : www.youtube.com/KadangTemanggung/

Kumpulan foto kunjungi : facebook

Lusthia : 180 Tahun, Selamat Hari Jadi Temanggung!

Lusthia : 180 Tahun, Selamat Hari Jadi Temanggung!

Listhia H RahmanHari ini tanggal 10 November, bertepatan dengan hari pahlawan ada sebuah kota yang memperingati hari jadinya Temanggung. Untuk ukuran sebuah kota masih tergolong muda dibandingkan dengan tetangganya, kota Magelang. Kabupaten Temanggung salah satu kabupaten yang ada di Jawa Tengah. Luas wilayah Kabupaten Temanggung  sekitar 870,65 Km2 (2,67 persen dari luas wilayah Provinsi Jawa Tengah).

Sudah 180 tahun sejak diputuskan pada tanggal 10 Nopember 1834, Temanggung mendeklarasikan hari jadinya. Hari jadi sebuah kota merupakan salah satu cara untuk meningkatkan semangat pembangunan dan pengembangan daerah pada semua lapisan masyarakat.

Di usianya yang terus bertambah, sudah banyak hal yang terjadi disini. Sebuah kota yang indah di antara dua Gunung Sumbing dan Sindoro ini pun pernah mengalami jatuh bangun. Namun, semboyan kota ini memang menyimpan harapan: Temanggung Bersenyum. Bersenyum adalah sebuah singkatan dari Bersih Sehat dan Nyaman untuk umum. Seberapapun pernah jatuh, masyarakat tetap bangkit untuk tersenyum membangun kota yang dibanggakannya kembali.

Beberapa tahun lalu, tepatnya pada awal tahun 2004 kota ini pernah dikhianati pemimpinnya sendiri. Penyakit Korupsi mengerogoti sang bupati. Siapa yang tidak marah,kesal,dan kecewa? Saat itu senyum kota ini seperti direnggut paksa. Tapi, tak berlangsung lama kota ini bangkit dan berusaha memperbaiki harapan yang pernah didustai. Temanggung “kembali” bersenyum dan kini sang “mantan” bupati-pun sudah divonis tujuh tahun penjara.

Tak berhenti sampai disini. Beberapa tahun kemudian nama kota Temanggung pernah menjadi trending topic media. Sayang bukan hal yang mengenakkan, justru menyesakkan. Terkait Terorisme. Ah, seperti peribahasa nila setitik rusak susu sebelangga. Masyarakat kota ini benar-benar merasakan dampaknya. Temanggung menjadi bercap negatif .

Ya, itu beberapa hal yang pernah menjadi krikil diperjalanan kota Temanggung. Namun,di hari yang spesial harus kalian tahu hal-hal baik apa yang pernah tercipta  dan ada di kota yang indah dan sejuk ini.

“Mbako Srintil”, Tembakau paling mahal ada di Temanggung

Mbako atau tembakau. Tembakau Temanggung atau dikenal dengan “Tembakau Srintil” merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Anehnya Tembakau “Srinthil” adalah tembakau  yang tumbuh begitu saja secara alami dan sampai detik ini belum ada peneliti yang bisa menemukan cara untuk membudidayakannya. Selain itu Harga “Srinthil” pun menggoda para petani, jika tembakau biasa Rp 12.500/kg, kualitas super per kilogram Rp 50 ribu, maka Srinthil harganya antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Tidak heran jika di sini banyak penduduk yang menggantungkan hidupnya pada komoditas ini.Areal penanaman tembakau di Temanggung rata-rata di atas 11.000 hektar yang tersebar di 14 kecamatan dengan tingkat produksi rata-rata 5000 ton tembakau per tahun. Angka tersebut setara dengan 31% produksi tembakau di Jawa Tengah atau 3.75% dari total produksi tembakau nasional.

Harta Karun di Lereng Sumbing-Sindoro yang Menawan

Kesenian yang tumbuh dan berkembang dikota ini antara lain kuda lumping, topeng ireng dan kubro siswo.

Tokoh – tokoh asli Temanggung

Jika kalian ingat pelajaran sejarah, ada sebuah perjanjian yang cukup terkenal dan familiar di telinga. Pernah mendengar Perjanjian Roem Royen? Ya, Mohamad Roem adalah seorang diplomat dan salah satu pemimpin Indonesia diperang kemerdekaan Indonesia. SelamaSoekarnopresiden, ia menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri Luar Negeri, dan kemudian Mendagri. Beliau adalah putra terbaik yang terlahir di sebuah kecamatan di Temanggung, Parakan.

Memang disetiap kota mempunyai tokoh yang dibanggakan. Dan Hal ini bisa menjadi cerminan dan nilai tambah bagi kota sebagai simbol kebanggaan pernah melahirkan tokoh yang dikenal masyarakat luas. Selain itu Beberapa tokoh yang lahir dikota ini adalah Bambang Soedibyo  (Menteri Keuangan Periode 1999-2000 dan Menteri Pendidikan RI periode 2004-2009), Didi Nini Thowok (seniman yang mendunia).

Made in Indonesia yang Mendunia

Siapa sangka barang ini bukanlah produk dari luar negeri. Radio kayu ini berasal dari kandangan, Temanggung. Memang produk ini tidak terlalu booming di  negerinya sendiri, tapi cukup terkenal di pasaran luar negeri. Mengusung nama “Magno”, radio kayu buatan Bapak Singgih S Kartono mengadaptasi model radio classic, vintage namun tetap terlihat modern minimalis. Menurut berita yang dilansir dari kadangtemanggung.com , Setiap bulan Singgih mengirimkan kurang lebih 400 unit radio ” Magno “nya ke berbagai negara, dengan harga yang cukup mencengangkan, harga satu unit radio Magno sekitar 1,5 juta rupiah. Bahkan di pasar Eropa radio produksi dusun Krajan, Kandangan ini bisa mencapai Eur 260 atau sekitar 5,2 juta rupiah. Waow!

Pesona Alam Kota Temanggung

Tidak hanya cantik dan bersih, kota ini juga menawarkan beberapa objek wisata dari alam, sejarah, geologi, pegunungan dan tradisi.Mungkin karena letak Temanggung yang “diapit” oleh dua kabupaten yang memiliki potensi wisatanya lebih dikenal orang, khususnya turis asing yaitu Candi Borobudur (Kabupaten Magelang) dan Dataran Tinggi Dieng (Kabupaten Wonosobo). Temangung menjadi lebih sering dijadikan kota Ampiran atau Daerah Antar Tujuan Wisata (DATW), belum sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW). Padahal obyek wisata yang menarik dan potensial antara lain Taman Rekreasi Pikatan Indah dengan Pikatan Water Parknya, Monumen Bambang Sugeng, Monumen Meteorit, Candi Pringapus, Curug Lawe, Curug Trocoh, Prasasti Gondosuli, Goa Lawa, Umbul Jumprit dengan Pengambilan Air Suci Waisak, dan lain-lain. Bahkan saat ini ada wisata alam yang ramai diperbicangkan yaitu Wisata Alam Posong. Ada juga situs yang ditemukan disini yaitu Liyangan. Situs ini mungkin akan mengungkap bagian dari masa lalu kota Temanggung.

Kuliner “menyeramkan” khas Temanggung

Tidak lengkap rasanya mengunjungi sebuah tempat tanpa mencoba kuliner makanan khasnya. Seperti yang sudah pernah dituliskan oleh Kompasiner Pak Aljohan pada tahun 2012 mengenai makanan khas yang ada di Temanggung berikut akan saya rangkumkan nama-nama kuliner di kota ini seperti: Ketan Gudig (ketan penuh koreng), Ndas borok (kepala borokan), sikil krowak (kaki luka menganga), Balung kueuk (tulang kucing hutan), emping kecis (emping palsu), dan bajingan. Selain itu, diluar nama yang mengerikan ada makanan yang perlu dicoba disini xeperti Sego Gono,Empis-empis, kupat tahu, bakso lombok ulegdanKuban Ramban.

Nah, itu hanya sedikit yang bisa saya kabarkan pada kalian. Jika ingin tahu lebih banyak, datanglah ke kota Temanggung kami!

Temanggung ibarat sebuah rumah yang menyediakan kehangatan dan kenyamanan orang yang menempatinya. Selamat Hari Jadi Kota Temanggung-ku. Tetaplah bersenyum dan gemah ripah loh jinawi Negeri Menoreh. Tempat Kenangan-Persahabatan dan Cinta tumbuh, sebaik kualitas Tembakau Srintil! ^_^

Salam Cinta,

Listhia H Rahman

sumber : kompasiana

Jual Kambing Qurban dari Temanggung

Jual Kambing Qurban dari Temanggung

Kadang Temanggung – Jakarta : Diperantauan warga Temanggung ini menyediakan HEWAN QURBAN Kambing berasal dari Kampungnya. Untuk Warga Jakarta silahkan menghubungi Dhoni untuk penyediaan Kambing Qurban. Berikut harga kambing yang disediakan Dhoni.

PAKET

HARGA

KING

Rp. 6.000.000

KING

Rp. 4.500.000

BIG SUPER

Rp. 4.000.000

SUPER

Rp. 3.500.000

  A+

Rp. 3.000.000

A

Rp. 2.500.000

B

Rp. 2.000.000

C

Rp. 1.700.000

dony kambing 1 

PAGUYUBAN BAROKAH

Alamat : Jl. Kramat Sentiong Rt.003/Rw.10
Kelurahan Tanah Tinggi Kec. Johar Baru

KAMBING
BEBAS ANTRAX + SURAT DOKTER
HARGA BISA NEGO

dony kambing  2

CONTACT PERSON :

DHONI : 0818 0720 3461
EMON : 0857 1714 1585

EMAIL : paguyubanbarokahindoneia@gmail.com

Putra Temanggung Kembangkan BBG Cartridge Tekanan Rendah

Putra Temanggung Kembangkan BBG Cartridge Tekanan Rendah

Dosen UGM pengembang BBG tekanan rendah

Dosen UGM pengembang BBG tekanan rendah

Dosen Teknik Kimia, Fakultas Teknik UGM, Ir. Imam Prasetyo, M.Eng., Ph.D., berhasil mengembangkan teknologi penyimpanan gas sistem cartridge (tukar pasang) dengan adsorpsi gas lewat karbon berpori. Riset teknologi tepat guna dari ‘kampus biru’ diharapkan mampu menjadi solusi untuk menjawab tantangan penerapan kebijakan konversi BBM ke BBG di Indonesia di masa mendatang. Soalnya penerapan konversi BBG pada kendaraan saat ini mengalami hambatan. Salah satunya adalah kekhawatiran masyarakat terhadap risiko apabila terjadi ledakan dan mahal biaya kompresi BBG.
Seperti diketahui, BBG dalam tabung penyimpanan konvensional memiliki tekanan hingga 200 bar. Tekanan gas yang begitu besar tersebut selain memberatkan kendaraan, berisiko sewaktu-waktu meledak apabila kualitas tabung kurang bagus. “Kondisi lalu lintas di Indonesia dengan membawa tangki dengan tekanan 200 bar sangat berisiko. Di samping tadi itu, tangkinya menjadi berat karena bahannya lebih tebal,” ungkap Imam saat di temui di Fakultas Teknik UGM, Kamis (4/9).

Dosen Teknik Kimia UGM ini berhasil mengembangkan inovasi penyimpanan tabung BBG dengan sistem karbon berpori. Dia mengklaim, selain harganya yang lebih murah, aman, produk inovatif ini tidak perlu menggunakan bahan tabung yang lebih tebal bahkan diameter tabung relatif lebih kecil. Kerena lebih kecil, penempatannya sangat fleksibel untuk ditempatkan pada kendaraan. “Tangkinya bisa dari bahan Stainless Steel, intinya dengan sistem ini, tangki BBG tekanannya lebih rendah, bahan lebih tipis, lebih murah, dari sisi kemanan jauh lebih baik. Kemudian, biaya kompresi juga lebih rendah,” kata pria yang lahir di Temangguing 42 tahun lalu ini.

Menurunkan Tekanan Gas
Teknologi Adsorbed Natural Gas (ANG) yang dikembangkan Imam ini, salah satu keunggulannnya adalah kemampuan mengurangi tekanan gas pada tangki BBG hingga ratusan bar. Merunut dari penjelasan Imam, gas pada tangki BBG yang dibuatnya terikat oleh karbon berpori yang dimasukkan ke dalam dasar tabung. Bahan karbon berpori tersebut terbuat dari polimer yang dipirolisis (pemanasan tanpa udara). Polimer yang berukuran nanometer ini, kata Imam, bisa menyesuaikan ukuran gas yang akan disimpan dengan cara mengatur komposisi polimer. “Jaringan pori berbahan polimer ini berukuran nanometer sehingga bisa menyerap dan mengakumulasikan molekul gas di dalamnya,” paparnya.

Penelitian yang sudah berlangsung lebih dari 3 tahun ini menurut Imam awalnya mengalami kendala karena sulitnya membuat polimer dan karbon yang sesuai dibutuhkan. Namun meski karbon dari alam tersedia cukup banyak tapi akhirnya Imam memilih karbon dari bahan polimer. “Hanya saja jika dibuat dari polimer, saya bisa mendesain ukuran porinya dan banyaknya porinya. Apabila menggunakan bahan alami, karakteristiknya tidak bisa diubah,” terangnya.

Apa keunggulan banyaknya pori dengan tekanan gas? Imam memulainya dengan menjelaskan perbedaan antara gas dan cairan yang ditentukan pada jarak molekul. Jarak molekul gas lebih renggang, sementara cairan jarak molekulnya lebih rapat. Apabila gas mendapat tekanan, maka jarak antar molekulnya makin mendekat, lalu saling menempel hingga menjadi cairan dengan cara dikompresi lewat tekanan tinggi. Nah, dengan menggunakan material berpori, molekul gas alam masuk mengisi pori-pori seperti termampatkan. Bedanya, molekul yang masuk ke pori-pori tersebut dalam ukuran nano. Efeknya seperti terkompresi sehingga tekanan gas jadi menurun. “Hasil inovasi saya, bisa menyimpan gas dengan sejumlah yang sama tapi dengan tekanan yag rendah. Karena terkadi efek pemampatan akibat pori-pori tadi,” paparnya seraya mengibaratkan satu gram karbon berpori memiliki total luas pori-pori seukuran luas lapangan sepakbola.

Kendati belum mengujinya dengan ditabrak atau dibakar pada kendaraan, Imam yakin produk ANG ini terbilang aman dari bahaya ledakan karena tabung BBG hanya membutuhkan tekanan 30-40 bar. Sementara tabung kendaraan berbahan bakar gas yang ada saat ini umum tekanan gasnya capai 200-250 bar. “Karbon yanga da di tabung BBG ini mampu menyimpan sejumlah metana yang sama pada tekanan 30-40 bar yang jauh lebih rendah daripada penyimpanan ekonomis metana di CNG yang mencapai 200-250 bar,” ungkapnya.

Saat disinggung dengan seringnya bus Transjakarta yang sudah menggunakan BBG sering mengalami ledakan saat tengah beroperasi, menurut Imam besar kemungkinan akibat tekanan gas pada tabung BBG. “Saya kira dikarenakan tekanan gas terlalu tinggi dan kualitas tabungnya yang rendah,” ujarnya.

Sistem Cartridge
Tabung BBG yang kini dikembangkan oleh Imam menggunakan sistem cartridge atau bisa tukar pasang. Apabila nantinya bisa diproduksi massal, Imam mengatakan masyarakat tidak harus antri di stasiun pengisian bahan bakar gas atau SPBG. Melainkan bisa membelinya seperti membeli tabung gas LPG. “Tabung sangat fleksibel, sangat memungkin mendukung konversi BBM ke BBG, hanya persyaratannya gas tidak boleh mengandung uap air. Jika mengandung uap air akan menutupi karbon,” tegasnya.

Seperti diketahui, hasil penelitian Imam ini tengah diuji untuk dipasang pada kendaraan yang kini tengah dilakukan oleh PT. Barata Indonesia, perusahaan BUMN yang bergerak di bidang konstruksi, alat berat, dan pengecoran. Setelah sebelumnya, hasil riset Imam Prasetyo ini diapresiasi langsung oleh Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan saat menengok langsung penelitiannya ini di kampus UGM. Dalam kesempatan itu, Dahlan menilai hasil riset dari UGM ini akan digunakan sebagai penurun tekanan gas pada tabung BBG. Dengan begitu, alat ini bisa dimanfaatkan sebagai pengganti BBM pada kendaraan dan perusahaan listrik Negara. “Saya kira ini pengganti solusi bensin, karena mahalnya tabung BBG, dan ketakutan masyarakat karena risiko ledakan,” katanya.

Dahlan menegaskan apabila teknologi ANG ini bisa menurunkan tekanan gas BBG yang sebelumnya rata-rata mencapai 200- 300 bar. Apabila bisa diturunkan lagi menjadi 18 atau 20 bar menurutnya hasil riset ini jadi solusi terbaik bagi Indonesia dalam mencari jalan keluar terkait persoalan menipisnya pasokan BBM. “Kita ini masih dalam penjajahan BBM, masih bergantung impor, tidak tahu cara mengatasinya. Jika ada konversi ke gas, ini solusi terbaik. Minimal ada ujicoba tahap awal. Kita coba nantinya dibakar atau ditabrak. Jika ini berhasil, tidak hanya untuk kendaraan tapi juga untuk pembangkit listrik,” pungkasnya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

Sumber : ugm.ac.id

Ke Temanggung, Aku kan Kembali

Ke Temanggung, Aku kan Kembali

paktani

Judul artikel ini sangat provokatif. Bagi sebagian besar masyarakat urban (baca: orang Temanggung dalam perantauan), mudik adalah tradisi yang wajib digelar tiap tahun. Demi mudik, gunung kan kudaki, lautan kan kusebrangi. Macet tak jadi soal. Tiket mahal bukan masalah. Apapun kondisinya, judulnya tetap pulang kampung. Titik.

Pulang kampung – selain untuk bersilaturahim jajah deso milang kori – juga bisa membangitkan kembali rasa kedaerahan serta nostalgia masa lalu. Termasuk nostalgia bahasa. Anda tentu masih ingat dengan sebutan “nyong” (saya) dan “samang” (kamu). Meski tak semua orang Temanggung memakainya dalam bahasa jawa ngoko atau madya sehari-hari, tetap saja kosakata itu merupakan bagian dari kekayaan bahasa masyarakat Temanggung. Ya..ya..seringkali kosakata seperti itu hanya dimengerti oleh masyarakat lokal, sebut saja : gigal (jatuh), gendul (botol), tak ndoki (coba lihat), joteksi (ojo ngantek, ojo ngasi), kemlinthi (gaya) dan jidor (sejenis kata-kata umpatan). Ha..ha..kedengarannya lucu ya. Silahkan Anda tambahkan sendiri, contoh kosakata seperti itu.

Pulang kampung juga tak bisa dipisahkan dari nostalgia kuliner. Sebut saja kupat tahu mbatoar (asal kata : abbatoir, bahasa Belanda yang artinya tempat penyembelihan, karena dulu di tempat ini ada tempat penyembelihan sapi), gudeg mbak Mah di belakang tugu pertigaan Galeh, warung Bakso favorit ABG tahun 90-an (Cipto Roso dan Sampurno), martabak telor dan tahu petis di depan BCA Temanggung, Soto Pringgading, Bakso Uleg Pak Di, atau rumah makan yang legendaris seperti RM Ani dan Sari Ayam serta masih banyak lagi tempat yang lain (kalau Anda belum puas dengan apa yang sudah saya tulis, silahkan Anda tambahkan sendiri. Puas ?).

Ngomong-ngomong soal rumah makan, seinget saya, rumah makan yang cukup besar di Temanggung kala itu (tahun 90-an), ya RM Ani. Menu ayam gorengnya tak tertandingi oleh Fried Chicken manapun. Sempat, dulu, ada California Fried Chicken (CFC) di Terminal Lama. Tapi, CFC hanya bertahan seumur jagung sebelum akhirnya gulung tikar. Lain dulu, lain sekarang. Jaman sudah berubah. Kini, sudah banyak rumah makan di mana-mana, ada Kampung Sawah yang menyajikan suasana persawahan, Larisa, hingga Omah Kebon yang pernah dijadikan tempat resepsi pernikahan artis Tria The Changchuters. Dari beberapa rumah makan yang saya kunjungi, saya belum pernah menemukan menu steak Wagyu, padahal di Temanggung terdapat sentra peternakan sapi Wagyu (ini Wagyu lho ya, sapi peranakan Jepang yang dagingnya empuk itu, bukan Wahyu temen kamu yang wagu).

Kalau ingin berburu kuliner warung tenda, Anda bisa mengunjungi kawasan Rolikuran. Dari dulu sampai sekarang, kawasan ini dipenuhi dengan warung tenda di malam hari, mulai dari bakso lombok uleg hingga masakan oriental. Ada sebuah warung yang menyajikan menu Cap Jay (pakai huruf J, bukan C). Menu ini sedikit berbeda dengan Cap Cay pada umumnya yang biasanya hanya terdiri dari sepuluh sayuran. Cap Jay beda karena dilengkapi dengan kekian, olahan terigu mirip bakwan yang rasanya sungguh make news (baca : mak nyus), pemirsa.

Sik..sik..sik…kembali ke bakso uleg dulu. Menu khas Temanggung ini terdiri dari bakso, tahu pong, kuah dan mi atau ketupat. Sensational offer-nya terletak pada Lombok yang langsung diuleg di mangkoknya. Dijamin Anda akan berkeringat dan mengeluarkan air mata serta ludah karena saking pedasnya. Dulu, Lombok yang dipakai adalah Lombok rawit, tapi sekarang sudah mulai menggunakan Lombok setan (ghost pepper) yang pedasnya bisa bikin Anda kesetanan. Seandainya Menteri Pendidikan Nasional masih dijabat oleh Bpk. Bambang Sudibyo yang orang Temanggung (tepatnya, Tembarak) itu, saya ingin mengusulkan agar istilah “kecil-kecil cabe rawit” diganti dengan “gemuk pendek cabe setan”…hua..ha..ha…Lombok itu pedas, jendral !.

Mampirlah sebentar ke Pasar Entho. Dulu, pasar entho pernah menjadi tempat bersarangnya mbok dhe – mbok dhe yang bergentayangan menjajakan (mohon maaf) dagingnya di tengah malam. Yu no wot ai min, tho ?. PSK. Kalau ingin “makan sate tanpa harus beli kambing”, ya di sini tempatnya. Tapi, itu dulu. Sekarang, tiap minggu pagi, Pasar Entho menyajikan beraneka jajan pasar. Ada sego jagung kluban yang dilengkapi dengan peyek teri, rempah (bentuknya mirip bakso, tapi terbuat dari campuran tepung dan kelapa), serta tempong (tempe gembus yang dibumbui pedas dan digoreng pake terigu). Ada sate tempe, ketan lopis, ketan bubuk, cethil, kocomotho, entho cothot, wehku, lentho, puyur, kemplang, saranggesing, putu mayang, klepon, gandhos, kipo, nogosari, mendhut, thiwul, gathot (ini singkong berjamur. Beneran berjamur lho. Ga percaya ? atau ada masalah ?) dan lain sebagainya (he..he..sampai capek nulis karena saking banyaknya dan sedikit ndlewer ilere karena terbayang kelezatannya). Itu semua jajan pasar yang “waras”. Kenapa saya sebut “waras”, karena ada jajanan lain yang ga “waras” (nama makanannya berkonotasi negative), contohnya : ndhas borok atau sikil krowak (makanan dari parutan singkong yang dikukus, diatasnya ditaburi parutan kelapa serta juruh dari gula aren kental. Bentuknya bundar dan dipotong-potong mirip pizza), bokong chino (bakpao) dan tai kucing (rasanya mirip widaran, hanya bentuknya yang mirip kotoran kucing). Yah, apalah arti sebuah nama. Walau namanya menjijikkan, yang penting rasanya lekkerrrr dan ga bikin laperrr.

Temanggung juga memiliki camilan andalan, seperti : ping jet/ping tho (sejenis emping yang terbuat dari singkong), pisang aroma dan keripik jamur kancing (champignon). Camilan yang memiliki ultimate advantage (wuidih..) ini sangat recommended untuk dijadikan buah tangan.

Bagi poro kadang yang sudah lama tinggal di kota, barangkali sebagian makanan yang saya sebutkan tadi sangat jarang dinikmati. Kalaupun saat mudik sempat mencicipi makanan tersebut, boleh jadi rasanya sudah tidak seenak dulu. Setidaknya itu yang saya rasakan. Sebenarnya bukan makanannya yang tidak enak, tapi karena lidah dan selera kita yang sudah bergeser. Lidah kita sudah terpengaruh oleh makanan-makanan dari daerah lain. Lidah ndeso telah berganti dengan lidah international (walah…sok yes).

Kembali ke masalah mudik. Sudah sekian tahun belakangan, saya terdampar di kawasan Puncak (Bogor) dan tak tahu kemana arah pulang (he..he…lebay.com). Kalau mau mudik via darat ke Temanggung, pilihannya cuma ada dua, lewat jalur selatan atau utara. Lewat jalur selatan secara jarak tempuh relative lebih pendek. Kanan kiri jalan, terbentang pemandangan hijau memanjakan mata. Tapi, karena kondisi jalan yang berkelok, naik turun dan sempit, lewat jalur selatan lebih capek nginjek koplingnya (yes…real man use three pedals…wkwkwk). Akibatnya, tiap kali mudik, salah satu agenda wajibnya adalah pijetan (ha..ha..umur berbicara). Jika lewat pantura, secara jarak tempuh lebih panjang. Tapi jalannya lurus dan lebar. Walaupun macet, ga terlalu berasa capeknya. Ya…ya…ya, tiap pilihan selalu ada plus minusnya. Ya tho ?. Thoooo…(sambil ngowoh).

Jarak tempuh perjalanan ke luar kota sebenarnya bisa kita perkirakan tanpa harus mengacu ke GPS ataupun peta. Sebagai contoh, jarak tempuh perjalanan darat dari Bogor ke Temanggung melewati jalur selatan, perkiraan kasarnya sekitar 480 s/d 560 km. Angka itu diperoleh dengan cara mengalikan jumlah kota yang dilewati dengan angka 60 km. Asal tahu saja, dulu, Belanda mengatur jarak antar kota (pusat kota/kabupaten) tidak lebih dari 60 km. Alasannya, sekali menempuh perjalanan, kuda (kendaraan di masa itu) hanya bisa berlari sejauh 60 km sebelum harus beristirahat semalaman. Dari Bogor ke Temanggung akan melewati 8 sampai 9 kota (Cianjur, Bandung, Tasikmalaya, Ciamis, Cilacap, Banyumas, Banjarnegara dan Wonosobo), jika dikalikan dengan 60 km, maka ketemulah angka diatas. Ilmiah, kan ?

Kalau mudik lewat jalur utara, kita akan memasuki Temanggung melalui Candiroto. Di sini terdapat mata air Jumprit yang tiap tahun diambil air sucinya untuk peringatan Hari Raya Waisak di Borobudur. Anda juga bisa mampir (tepatnya blusukan, soalnya akses menuju TKP penuh dengan keringat dan cucuran air mata perjuangan…hi..hi..) ke Curug Lawe di Gemawang. Perjalanan dilanjutkan ke Ngadirejo, tempat ditemukannya situs Liyangan (diduga merupakan kawasan pemukiman penduduk di masa Mataram Kuno) serta candi Pringapus yang dibangun pada tahun 850 M. Lanjut lagi ke sisi utara Parakan. Kita akan melewati daerah Batuloyo (depan kantor kecamatan), tempat pertempuran antara lascar bambu runcing dengan pasukan Dai Nippon, Jepang.

Jika mudik lewat jalur selatan, kita akan melewati Kledung. Sebuah daerah dengan pemandangan yang indah ditengah dua gunung, yaitu : Sumbing dan Sindoro. Di sini terdapat tempat wisata bernama Posong dan Embung (telaga) Kledung. Hawanya sejuk. Kalau saja tempat ini dekat dengan kota besar, kemungkinan nasibnya akan sama dengan kawasan Puncak di Bogor. Macet tiada tara.

Lanjut ke Parakan. Setibanya di pertigaan pasar kembang, beloklah ke kanan, melewati Jalan Bambu Runcing. Di sebelah kanan jalan itu (sonoan dikit tapi) merupakan desa tempat kelahiran Meester in de Rechten (Sarjana Hukum jaman dulu, disingkat Mr.) Mohammad Roem. Beliau adalah diplomat yang menjadi anggota delegasi saat perjanjian Renville dan Linggarjati serta pemimpin delegasi pada saat perjanjian Roem – Roiyen yang mebicarakan batas Negara antara Indonesia dengan Belanda. Setelah kemerdekaan, beliau sempat menjadi Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri hingga Wakil Perdana Menteri di era Orde Lama.

Di sekitar jalan ini pula, dahulu, bambu runcing melegenda. Sebenarnya, pada jaman itu, bambu runcing sudah biasa digunakan oleh masyarakat untuk berburu tikus di sawah. Tapi, di tangan kyai-kyai Parakan (KH. Sumomihardho, KH. Subkhi, KH. Ali, KH. Abdurrohman dan Kyai lainnya), bambu runcing menjadi senjata yang mampu menggentarkan musuh. Melalui do’a-do’a para kyai itu, bambu runcing menjadi ampuh. Ribuan orang datang ke Parakan seraya membawa senjata untuk dido’akan Kyai. Tak hanya bambu runcing, bahkan pedang, senapan hingga tank tempur. Bung Tomo beserta pasukannya pernah ke sini. Pejuang dari Jawa Timur datang ke Parakan dengan menaiki kereta api (sayang, setelah tahun 1973, stasiun kereta api di Temanggung tak lagi beroperasi). Panglima Besar Jendral Sudirman beserta pasukannya, sebelum bertempur melawan Belanda di Ambarawa, juga datang ke tempat ini. Parakan menjadi sangat ramai pada masa itu. Tak heran, pedagang pinggir jalan bermunculan. Mereka tak menawarkan “akua….mijon..akua…mijon” seperti pedagang asongan jaman sekarang, karena pada saat itu memang belum ada (ya..iyalah..bray). Barang yang ditawarkan hanya sandang dan pangan. Meskipun ada satu dua pedagang yang menjual barang unik seperti cerutu yang panjangnya lebih dari 1 meter (kebayang kan, gimana nyedotnya).

Perjalanan berlanjut. Sebelum ex gedung bioskop Wisnu, di sekitar tempat itu (namanya Gambiran, mungkin dulu terdapat gudang gambir, komoditas yang laku selain menyan pada jaman itu) ada rumah Bah Sutur (Hoo Lin Pun). Beliau adalah salah satu murid Lauw Tjheng Tie, pendekar kung fu yang terkenal itu. Rumah Bah Sutur pernah menjadi tempat syuting film tahun 80-an berjudul “Apanya Dong” yang dibintangi oleh artis gaek, Titik Puspa (tante Titik pernah tinggal di Gemoh, Temanggung. Beliau membangun masjid “Birrul Walidain” yang berarti “berbakti kepada kedua orang tua”). Sedikit bercerita tentang Lauw Tjheng Tie. Dia adalah guru kung fu dari daratan Tiongkok yang merantau ke Indonesia. Setelah merantau ke beberapa kota (Jakarta, Semarang), Lauw memutuskan untuk tinggal di Parakan karena merasa disambut baik oleh masyarakat Tiong Hoa di sana. Ia mengajarkan kung fu aliran Shaolin Utara yang jurus-jurusnya banyak menggunakan tangan (beda dengan aliran Shaolin Selatan yang banyak menggunakan kaki). Muridnya tersebar di seantero Jawa. Dia menguasai Gin Kang (ilmu meringankan tubuh). Hap…hap…sekali lompat bisa naik ke atap rumah.

Di kawasan ini banyak pemukiman warga Tiong Hoa. Salah satu yang terkaya adalah Bah Yung Gie (juragan tembakau yang juga pendiri bank Aspac. Belakangan, salah satu cucu beliau sempat disorot media saat menikah dengan putra Setya Novanto, seorang pengusaha & mantan ketua DPR). Sekilas rumahnya tampak sederhana. Seperti rumah orang Tiong Hoa pada umumnya. Hanya terlihat gerbang tua dari luar. Tapi, setelah masuk ke dalamnya, saya takjub. Di era 80-an, lahan rumahnya sangat luas, lebih luas dari kampung yang saya tempati. Di dalamnya ada lapangan olah raga, deretan koleksi mobil kuno (salah satu yang saya ingat adalah Jeep Willys) dan kebun binatang kecil yang berisi rusa, kasuari, kakatua putih, merak dan lain sebagainya. Konon, dahulu kala, pengusaha Liem Sioe Liong (Sudono Salim) pernah berdagang menyan keliling hingga ke tempat ini.

Lanjut lagi. Setelah pertigaan terdapat Kelenteng Hok Tek Kong. Di sebelahnya lagi ada kantor Kawedanan. Dulu, Parakan adalah pusat pemerintahan Kabupaten Menoreh. Bupati yang menjabat adalah Kanjeng Raden Tumenggung Soemodilogo. Konon, sang Bupati menguasai ilmu Rawarontek (tidak mempan dibunuh jika menyentuh tanah). Tapi, akhirnya Soemodilogo terbunuh oleh pasukan Diponegoro. Kepalanya dipenggal dan ditanam di Selarong (Yogyakarta) sementara tubuhnya dimakamkan di Tegalrejo (Bulu). Terakhir kali saya melintasi Tegalrejo beberapa tahun silam, saya dapati makam Soemodilogo telah dibangun menjadi tempat pemakaman yang megah. Sebagian masyarakat menghormati jenazah yang bersemayam di makam itu, tapi sebagian lagi (maaf) mencibir, karena menganggap sang Bupati adalah antek Belanda. Tidak jauh dari makam itu, di desa Jolopo, terdapat makam salah satu panglima perang Diponegoro yang berjuluk Honggo Yudho. Makamnya biasa saja karena ia ingin menjadi rakyat biasa di akhir hidupnya. Ia tak mau kembali ke Keraton meski dijemput oleh abdi dalem. Dulu, masyarakat sekitar tidak tahu bahwa sang panglima memiliki ilmu kanuragan dan tosan aji. Hingga suatu saat, ketika masyarakat desa sedang bekerja bakti, mereka takjub melihat Honggo Yudho membelah batu tidak menggunakan palu, melainkan dengan cemeti. Setelah terbunuhnya KRT Soemodilogo, nama Kabupaten Menoreh diganti menjadi Kabupaten Temanggung dengan pusat pemerintahan di kota Temanggung. Bupati pertama Temanggung adalah Djojonegoro. Bupati keenam bernama Tjokrosoetomo yang merupakan ayahanda dari Bang Nolly (Tjokropranolo), Gubernur DKI Jakarta tahun 70-an.

Perjalanan berlanjut. Setelah jembatan kali Galeh, ada jalan ke kanan menuju prasasti dan candi Gondosuli yang dibangun pada masa yang sama dengan dibangunnya Borobudur (sekitar abad 8 – 9 M). Sayang, prasasti dan candi ini sudah tidak utuh dan sangat tidak terawat. Melewati Bulu, Anda akan disuguhi Monumen Meteorit di Wonotirto. Pada tahun 2001, tempat itu kejatuhan meteor. Kalau Anda melewati Kedu, Anda bisa mampir ke Kandangan, tempat radio kayu Magno dan Spedagi (sepeda bambu) diproduksi.

Memasuki kota Temanggung, anda akan mendapati kampung-kampung di kota ini dalam keadaan bersih. Jarang ditemui sampah di jalan-jalan. Pantas saja kalau kota ini mendapat anugrah Adipura Kencana dari pemerintah untuk kategori kota kecil terbersih.

Tidak banyak yang berubah dari kota ini dari masa ke masa. Tak ayal, Kemen PU menganugerahi Temanggung sebagai 1 diantara 17 Kota Pusaka di Indonesia. Banyak situs bersejarah yang bertebaran. Ikon kotanya masih seperti dulu. Ada Taman Kartini di Kowangan, yang sekarang sudah lumayan terurus dibanding dulu. Selain kolam renang dan taman bermain, kini dilengkapi pula dengan Bioskop 4 dimensi. Cukup layak untuk dijadikan tempat rekreasi keluarga. Kita juga bisa menikmati segarnya bermain air di Pikatan Water Park dengan tiket murah meriah. Wahana di tempat ini tak kalah seru dengan tempat rekreasi air di tempat lain. Dulu, Pikatan hanyalah kolam renang biasa (tempat pertama kali saya belajar renang gaya batu). Ikon kota lainnya adalah tugu jam di dekat Rolikuran. Di sebrangnya ada patung pejuang dan kuda putih. Di belakang patung ada makam Kyai Babak (salah satu panglima perang Diponegoro) serta Kelenteng Kong Ling Bio.

Di dekat terminal, terdapat stadion Bambu Runcing, tempat Persitema biasa merumput di Liga Divisi Utama PSSI (semoga lekas naik pangkat ke Super League, biar bisa ditonton orang se-Indonesia ya). Masih di dekat terminal, ada pool bus Safari Dharma Raya milik pengusaha Temanggung, yaitu Darmoyuwono atau Oei Bie Lay (disingkat OBL). Ada pula Monumen Bambang Sugeng, mantan KASAD, penggagas Serangan Umum 1 Maret 1949, mantan Dubes Vatikan, Jepang dan Brasil yang dimakamkan di Kranggan.

Ikon kota yang ramai dikunjungi adalah Alun-alun. Sebagaimana tata letak kota di jaman kerajaan Islam, alun-alun Temanggung berada dalam satu kawasan dengan pendopo Kabupaten dan masjid Agung Darussalam. Dulu, tempat ini sepi. Hanya dipakai untuk kegiatan upacara dan olahraga. Tapi, sejak adanya performance music gratis dan kembang api tiap malam minggu di akhir tahun 90-an, alun-alun mulai ramai didatangi pengunjung. Tak hanya alun-alun dan pendopo yang dipercantik, masjid juga direnovasi dan dilengkapi dengan menara tinggi menjulang. Sekarang, pak tani (patung di pinggir alun-alun) tak lagi kesepian (he..he..).

Patung pak tani di alun-alun seolah hendak melambangkan fakta bahwa kebanyakan masyarakat Temanggung hidup dari bertani. Komoditi pertanian yang menjadi primadona adalah tembakau. Tembakau terbaik Temanggung disebut srinthil (grade F ke atas). Satu kilogram tembakau srinthil harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Tak heran, banyak orang menjadi kaya dari bertani dan jual beli tembakau. Komoditi terkenal lainnya adalah kopi (kopi luwak juga ada lho) dan kelengkeng. Temanggung merupakan daerah pengekspor kopi terbesar di Jawa Tengah. Kopi jenis robusta ini sudah dieksport  ke Eropa, Timur Tengah, Jepang dan Amerika Serikat. Kopi Arabica Temanggung bahkan termasuk 8 besar kopi terbaik dunia pada ajang kejuaraan yang diselenggarakan di Swedia pada tahun 2015 serta telah mendapat hak paten dari Kemenkumham RI. Kelengkeng dari Temanggung juga tak kalah bagusnya, bahkan kelengkeng Batu dari Pringsurat termasuk kelengkeng varietas unggulan.

Sampailah kita di kerkop (kerkhof, bahasa Belanda yang berarti kuburan). Belok kiri. Di desa ini, terlahir seniman tari Tjoen An (Didik Nini Thowok). Tak jauh dari gapura kampung itu, saya mudik untuk sungkem ke rumah orang tua. Saya berjanji : ke Temanggung, aku kan kembali.

Wes semono dhisik yo, le. Driji simbah wes sayah olehe menceti kibod. Insha Allah, kapan-kapan, mbah teruske maneh tulisane. Saiki simbah tak ngeluk boyok dhisik. Leyeh-leyeh sinambi uro-uro. Ngombe teh nasgithel seko jero poci. Srupuuut. Enak tenan. Urip pancen mung sadermo mampir ngombe. Nuwun – nur.zakaria@gmail.com

Wara Wara Mubes FIKT

Wara Wara Mubes FIKT

MUBES FIKT-2014-MUKAKatur poro kadang semuanya, sehubungan dengan pelaksanaan Mubes 2014, panita sedang mempersiapkan segala sesuatunya agara dapat berjalan dengan sebaik baiknya.

Selain menyiapkan rundown acara, juga mempersiapkan AD/ART, Laporan Pertanggungjawaban, serta usulan rekomendasi,usulan program kerja dll.

Berikut kami share draft AD/ ART dan  Run-Down Acara yang akan dilaksanakan. Agar poro kadang dapat mempelajari terlebih dahulu sehingga dalam rapat nanti sudah mempunyai bahan untuk dimusyawarahkan dan disempurnakan.

Semoga kegiatan dapat berlangsung dengan sukses, dan memberikan kerangka langkah perjalanan pengurus FIKT kedepan dengan lebih baik dan terencana.

Salam
Eli M

Rancangan AD ART Susunan Acara